Ada sedikit pengalaman dengan teman saya. Dia pernah pinjam buku marketing saya. Katanya ingin belajar marketing. Seminggu kemudian saya kerumahnya, buku itu masih “utuh” belum tersentuh, terletak diatas meja dengan sedikit debu diatasnya. Dia bilang bahwa minggu ini dia sibuk sekali. Mungkin pada akhir pekan dia akan mulai membacanya.
Setahun kemudian ketika saya kesana, ternyata debu diatas buku tersebut bertambah tebal. Dan teman saya masih belum mempunyai waktu untuk membaca karena kesibukannya. Saya akhirnya mengambil kembali buku tersebut, karena saya sedang membutuhkan informasi dari buku itu.
Lalu, bagaimana teman saya? Saya katakan kepadanya, bahwa seumur hidup dia tidak akan pernah punya waktu untuk membacanya. Benarkah? Atau mungkin saya yang terlalu “pelit” untuk meminjamkan lagi buku kepadanya.
Setiap orang sudah punya “jadwal tetap harian” yang jadi kebiasaan dalam otaknya, mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, menstater motor, ke kantor, bekerja, sampai tidur malam. Kita mengerjakan “jadwal tetap harian” ini, bisa dibilang kita mengerjakannya hampir tanpa berpikir sama sekali. Karena semuanya sudah diatur oleh otak bawah sadar kita.
Dari pengalaman teman saya meminjam buku, dia berusaha memasukkan “menu baru” ke dalam “jadwal tetap”nya. Menu baru itu akan tetap disitu jika kita melakukan aktivitas tersebut. Namun, jika tidak “peringkat”nya akan terus menurun. Setelah satu tahun, peringkat menu “baca buku” itu pasti sudah terlempar dari 100 besar, bahkan lenyap sama sekali. Sangat sulit untuk mendongkrak kembali, jika tidak mempunyai alasan yang sangat kuat.
Berapa banyak dari kita yang berperilaku seperti itu? Menunda hal-hal kecil seperti membaca buku, menata lemari pakaian, dll sampai akhirnya pekerjaan tersebut tertunda terus hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sering kali juga pekerjaan tersebut akhirnya tidak jadi dilaksanakan.
Ada tiga hal yang bisa mendorong kita untukmelakukan pekerjaan yang sering tertunda tersebut, yaitu Alasan, Prioritas dan Komitmen.
Alasan. Setiap orang jika menjumpai hal baru selalu timbul pertanyaan dalam benaknya.
“What’s in it for me?” Apa manfaat hal baru tersebut untuk saya?
Adakah manfaat tersebut membawa saya ke kehidupan yang lebih baik?
Adakah manfaat tersebut membutuhkan kerja keras?
Adakah manfaat tersebut dapat dinikmati dalam jangka panjang atau pendek?
Prioritas. Merupakan urutan yang anda letakkan bagi hal baru tersebut. Anda bisa menentukan prioritas hal baru tersebut dengan menanyakan ke diri sendiri beberapa pertanyaan berikut :
Seberapa penting hal baru ini dibanding dengan hal yang sudah ada?
Kalaupun lebih penting, haruskah saya kerjakan sekarang?
Dapatkah hal baru ini ditunda kapan-kapan?
Masa iya saya harus menunda pergi ke mal karena harus membaca buku?
Komitmen. Komitmen adalah janji anda kepada diri sendiri. Komitmen sendiri terbagi 3 jenis, yaitu :
-I’ll do it if I have time.
Komitmen ini yang kerapkali dilakukan oleh orang yang merasa dirinya sangat sibuk. Mereka akan melakukan tugas baru tersebut disela-sela jadwal mereka yang padat. Itupun kalau memang ada waktu luang. Mengapa mereka melakukan ini? Sudah jelas, mereka tidak punya alasan ! Itulah mengapa alas an diletakkan ditempat pertama.
-I’ll do my best.
Komitmen kedua ini yang kerap dikatakan orang yang sudah punya alasan, dan berusaha mengerjakan sesuatu sebaik mungkin. Tapi komitmen ini juga tidak cukup kuat. Ibaratnya anda mengisi bak air, pada komitmen kedua ini mungkin anda hanya sanggup mengisi setengahnya saja, karena memang sampai disitu saja anda menganggap kerja anda sudah 100%
-I’ll do it until finish.
Kelihatannya yang ketiga ini cukup sederhana, tapi justru ini yang tersulit. Pada komitmen ketiga ini, anda mungkin harus bekerja lebih keras dan lebih lama. Dalam ilustrasi bak air diatas, kalau usaha anda mengisi bak air 100%-nya adalah setengah bak, berarti anda mungkin harus bekerja sampai 200% untuk menyelesaikannya.
Sesuatu hal baru yang pertama kali dilakukan akan menimbulkan rasa asing. Karena itu lakukan hal-hal baru diatas secara terus menerus, karena suatu hal yang baru akan menjadi kebiasaan jika sering dilakukan. Dan suatu hal yang telah menjadi kebiasaan akan lebih kuat “peringkat”nya, karena keberadaannya sudah “diakui” oleh otak bawah sadar anda.
Tulisan : Sonny V Sutedjo MM



No comments:
Post a Comment